"Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah."

Sedikit latar belakang sejarah tentang mengapa umat Islam menyebut umat Kristen “kafir”

Written By Ray Maleke on Selasa, 21 Agustus 2012 | 05:12

(foto: mindaaktif.net)
Perbincangan di media sosial online antara penganut Kristen dan Islam yang taat, seringkali telah melebihi ungkapan-ungkapan mereka yang menyusup di kedua belah pihak untuk menancapkan kata-kata hinaan dan intoleransi beragama terhadap pihak lain.

Menyadari bahaya retorika kebencian seperti ini, kami telah mengutip sebagian dari tulisan Jan S. Aritonang “Sejarah Perjumpaan Gereja dan Islam di Indonesia” dalam Agama dalam dialog: pencerahan, pendamaian, dan masa depan; punjung tulis 60 tahun Prof. Dr. Olaf Herbert Schumann (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1999, h. 180-182). Hal ini untuk memberikan gambaran perkembangan sejarah yang membuat umat beragama di Indonesia, lebih khusus antara Islam dan Kristen, tak jarang terbawa pada sikap anti Pancasila yang pada hakikatnya menjunjung nilai-nilai toleransi beragama, harga-menghargai, bahkan gotong-royong.

Perjumpaan antara Gereja/kekristenan dan umat/agama Islam di Timur Tengah sudah berlangsung sejak abad ke-7, yakni sejak munculnya agama Islam. Perjumpaan itu – dalam arti positif maupun negatif – pada abad-abad selanjutnya berlanjut di berbagai penjuru dunia ini, termasuk di Eropa, Afrika dan Asia Selatan sampai Timur. Salah satu … peristiwa sangat membekas yang menandai perjumpaan itu adalah rangkaian Perang Salib (sekurang-kurangnya tujuh kali, antara tahun 1050-1270, berlangsung di Eropa dan Timur Tengah). Kendati masyarakat Islam dan Kristen Indonesia tidak ikut di dalamnya, tetapi dampak Perang Salib itu, termasuk mentalitas yang ditimbulkannya, cukup terasa di Indonesia, bahkan hingga dewasa ini....

Di Indonesia tidak dapat ditetapkan secara [pasti] sejak kapan berlangsung perjumpaan antara Gereja dengan Islam – dalam arti umum, yakni bertemunya orang-orang beragama Kristen dengan pemeluk agama Islam. Sebab masing-masing pihak mengklaim sebagai yang lebih dulu hadir di Indonesia sejak abad ke-7, kendati tidak ada bukti otentik tentang klaim itu. Yang dapat dibuktikan dengan data historis yang ada adalah sejak abad ke-16, yakni sejak armada dagang Portugis – yang dimandati menyebar agama Kristen/Katolik oleh Paus Katolik Roma – datang ke Kepulauan Nusantara ini.
[p]

Itu dilanjutkan oleh VOC (abad ke-17 dan 18) yang juga mengemban tugas menyiarkan agama Kristen [Protestan] menurut pengakuan iman Belanda. Perjumpaan itu bermula di Kepulauan Maluku, lalu kemudian di kawasan-kawasan lain. Perjumpaan itu pada umumnya bercorak negatif, dalam arti: pihak Islam (yang sudah mendapat tempat dan kekuatan politik dalam berbagai kerajaan ataupun kesultanan) melihat pihak Kristen sebagai orang “kafir”, lalu menolak kehadiran pihak Kristen bila bertujuan mengabarkan Injil atau mengkristenkan masyarakat Islam.
[p]

Sementara itu pihak Kristen juga memelihara gambaran negatif tentang agama Islam (yakni Islam sebagai musuh), sebagai warisan Perang Salib tadi. Karena itu, perjumpaan (encounter) dalam arti yang sejati, yakni masing-masing pihak berusaha untuk mengenal dan memahami pihak lain, belum terjadi sampai akhir abad ke-19.

Ketika para utusan Injil (zendeling: Missionar) berangsur-angsur datang ke Indonesia dari Eropa sejak awal abad ke-19, sikap negatif terhadap Islam itu masih melekat pada mereka. Di satu sisi mereka mengakui umat Islam sebagai penyembah Tuhan (karena itu mereka umumnya tidak menyebut umat Islam sebagai “kafir”), tetapi di sisi lain mereka tetap memandang umat Islam sebagai musuh yang harus ditaklukkan; dan penaklukan yang paling efektif adalah dengan mengkristenkan mereka. Dengan kata lain, sikap trimfalistik [penaklukan], sebagai bagian dari mentalitas Perang Salib itu, cukup kuat melekat pada para penginjil itu.
[p]

Pada gilirannya sikap dan pemahaman itu mereka wariskan kepada masyarakat pribumi yang berhasil mereka kristenkan (terutama yang berasal dari lingkungan agama [etnik], yang sering disebut [oleh] para penginjil sebagai agama kafir, sipelebegu).

Sementara itu pihak Islam, kendati sedikit-banyak menyadari bahwa orang Kristen adalah Ahlul Kitab, namun karena warisan Perang Salib itu mereka mencap agama Kristen sebagai kafir, dan juga sebagai agama penjajah, tanpa merasa perlu mencari tahu apakah pemerintah kolonial itu (terutama Belanda) bisa disebut Kristen. Karena itu, upaya dalam sejarah pekabaran Injil di Indonesia pada sisi tertentu bisa juga dilihat sebagai sejarah pergumulan (persaingan) antara Gereja/kekristenan dan Islam.

Berhubung artikel kecil ini merupakan pemikiran berdasarkan sejarah, kami tidak memasukkan diskusi teologis yang juga menjadi bagian dari anggapan-anggapan keliru di antara dua Agama Abrahamik ini. Contoh yang paling populer adalah pemahaman Trinitas dalam Agama Kristen, sebuah divine mystery (rahasia ilahi) yang sering menjadi batu sandungan bagi agama lain, karena menganggap kekristenan menyembah tiga Allah. Untuk percakapan ini tentunya lebih baik dibahas secara tersendiri.

Namun pada akhirnya, kami merekomendasikan buku penghargaan ulang tahun Prof. Olaf ini sebagai bahan sumber untuk mendalami dialog antarumat beragama di Indonesia. Salah satu penulis di dalamnya adalah Dr. Komaruddin Hidayat dari Yayasan Paramadina Jakarta.***
Share this article :

0 komentar :

Poskan Komentar

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Menara Penjaga - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger